Widget edited by Amburadul Blog's 99

1 Januari 2013

> Happy New Year

Orang-orang dah pada tidur nih sepertinya habis pesta party tahun baru semalam… Tapi aku masih belum (bisa) tidur semenjak bunyi Petasan Sialan di samping kamar saya! Akhirnya saya jadi bergadang sampai pagi.! Ohh!


hhmm, seperti nya udah jadi tradisi dech ya, kalau tahun baruan pasti mainnya kembang api, petasan, atau terompet. Mulai dari ujung kampung sini hingga pelosok kampung sana, bunyi-bunyian campur aduk jadi satu, tak peduli irama. Di tempat saya tinggal juga pada ramai ngerayain.


Kalau nggak mukul panci, membakar petasan, ya itu tadi, niup terompet-terompetan. saya sich milih di dalam rumah aja, cukup mendengar. Kalaupun mau lihat kembang api, aku mending milih naik ke loteng rumah. Kembang api dari mana-mana bisa kelihatan.

Untungnya lagi, pohon-pohon yang sebelumnya benar-benar menjadi penghalang untuk memperluas cakrawala–di belakang rumah sudah ditebang sama yang punya Pak RT tadi siang. Jadi, tambahlah banyak yang bisa kulihat kembang api tadi malam. Ah, tapi aku hanya melihat sebentar saja. Tidak begitu menikmati lebih tepatnya. Kenapa, ya? Suka-suka saya lah!

Duh, jadi teringat tahun baruan jaman-jaman SD dulu. Bapak pasti ngajak ibu, adik, dan saya buat nonton kembang api di lapangan sepakbola milik pemerintah kota. Setengah jam sebelumnya kami berangkat biar kebagian tempat ‘nonton’, soalnya lapangan sepakbolanya bakal rame banget. Apalagi waktu itu, atraksi kembang api yang ditampilin bener-bener ‘WAH’ karena disponsori sama sebuah perusahaan milik negara.

Setelah setengah jam pesta kembang api, bahkan kurang, saya pasti minta pulang karena ngantuk. Pernah Bapak tidak mengajak keluar. Jadi kami tahun baruan di rumah. Kalau kamu pikir di rumah bakal membosankan, kamu salah. Eh, sebelumnya saya kasitahu kalau rumah Bapak ada di ujung jalan, di sisi utara dan timurnya.

Jika sebelah timur kamu telusuri, maka kamu akan tembus ke hutan bakau, untuk selanjutnya mengarah ke Laut Sulawesi. Haha, kebayang, kan?! Jika saat itu kamu pikir aku akan sedih merayakan tahun baru di rumah, terlebih tidak dapat melihat kembang api di lapangan sepakbola, kamu salah.

Karena dari rumah, saya juga bisa melihat kembang api di kejauhan sana, di sebelah timur. Kata Bapak, itu kembang api dari kawasan pabrik, hiburan untuk karyawan perusahaan yang saat itu harus bekerja. Siren pabrik juga dibunyikan, lho! Lalu, kembang api kecil dari kapal pengangkut barang juga terlihat. Pokoknya tidak kalah seru deh dengan atraksi yang di lapangan!

Pernah juga saya tahun baru di kampung, di suatu desa di pingir sungai yang merupakan bagian dari Kota Intan. Kalau tahun baruan di kampung yang seperti tempat saya ini, atraksi kembang apinya memang tidak ada yang heboh. Yang membuat heboh justru bunyi petasan raksasanya. Karbit mereka menyebutnya. Terbuat dari drum-drum bekas, batang-batang bambu, batang-batang pohon besar sisa industri kayu, bahkan tak jarang batang pohon yang masih baru, yang kemudian di’ledak’kan dipinggir sungai.

Yang saya suka dari karbit tentu saja bunyinya dan efek getarannya! Bunyi petasan yang seperti letupan popcorn–yang biasa digunakan anak tetangga rumah tinggal saya saat ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bunyi karbit di kampung saya He he! Sekarang masih ada tidak, ya? Hmm…

Tapi, yang terpenting dari semua ini bukan masalah kembang api atau petasan atau karbit. Apapun suasananya, bisa kumpul dengan keluarga itulah yang paling berkesan. Intinya, aku lagi kangen Bapak dan Ibu…  :(
Comments
3 Comments

3 komentar:

Ririt Handayani mengatakan...

Happy New Year!
Makasih udah follow. Done follow you back yah :)

Poe tra mengatakan...

oke...salam knal

sohibul mikrat mengatakan...

mantap gan,,.!